Selasa, 19 Oktober 2021
Plantation Market Place
Plantation Market Place
Pasang Iklan Disini


01 Desember 2020

Ketua GAPKI, Kampanye Hitam Kelapa Sawit Sudah Kelewat Batas

Tim Redaksi | 387 Pembaca

Ketua GAPKI, Kampanye Hitam Kelapa Sawit Sudah Kelewat Batas
Foto: Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit indonesia
Pasang Iklan Disini


Kampanye negatif terus dilakukan secara terstruktur, sistematis, dan masif, khususnya publikasi dan pemberitaan. Konten kampanye sudah tidak rasional dan sangat tendensius.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Joko Supriyono menyatakan kegeramannya terhadap kampanye hitam yang ditujukan kepada industri sawit nasional seperti yang terjadi belakangan ini karena melewati batas dan sudah menjurus kepada kebencian kepada industri sawit Indonesia.

"Kampanye negatif terus dilakukan secara terstruktur, sistematis, dan masif, khususnya publikasi dan pemberitaan. Konten kampanye sudah tidak rasional dan sangat tendensius," ungkap Ketua Umum GAPKI Joko Supriyono dalam keterangan tertulis, Kamis.

Ketua Umum GAPKI Joko Supriyono meminta masyarakat untuk tidak ikut memviralkan berita negatif yang menjelekkan industri sawit di Indonesia karena sangat merugikan banyak orang.

"Mari kita viralkan yang positif-positif saja. Kita jaga kepentingan nasional bangsa Indonesia," ajak Joko Supriyono.

Senada dengan Ketua Umum GAPKI Joko Supriyono, salah seorang Tokoh Masyarakat Papua bernama Pastor Felix Amias turut menanggapi pemberitaan BBC News Indonesia pada 12 November lalu.

Ia menyimpulkan bahwa dirinya tidak melihat bahwa video yang dirilis BBC News Indonesia ini untuk membela kepentingan rakyat, karena terlihat banyak manipulasi gambar, dan itu artinya lebih untuk kepentingan sendiri.

"Saya melihat ini lebih karena ada persaingan bisnis dan bukan murni untuk membela kepentingan masyarakat," ujar Pastor Felix melalui keterangan tertulis.

Menurut Pastor Felix, manipulasi gambar sangat terlihat jelas dalam video yang digunakan oleh BBC News Indonesia. “Gambar masyarakat di rumah gubuk sebelah Sungai Digoel di depan Asiki itu bukan pemilik dusun yang diusir PT Korindo. Mereka itu orang-orang dari kampung sekitar yang datang tinggal di sebelah Digoel untuk ternak babi," katanya.

"Saya mengatakan demikian karena salah satu rumah gubuk di situ adalah saudara saya yaitu Ibu Yustina Kemon. Ibu Yustina dan suaminya tinggal menumpang di situ untuk ternak babi," kisahnya.

Editor : Joko Yuwono
Plantation Market Place
Pasang Iklan DisiniPasang Iklan Disini